Taemin

Taemin

Sabtu, 26 Maret 2011

Fanfiction - Really Missing You

Really Missing You
By : o m a n k a z t h y t r u e e y e s – s h a w o l
Annyeong haseyo * bungkuk badan 90 derajat *
***
Judul : Really Missing You
Author : o m a n k a z t h y t r u e e y e s – s h a w o l
Casts :
- Seon Yudi ( Female )
- Cho Kyuhyun ( Male )
- Kim Kibum ( Male )
- Lee Sungmin ( Male )
- And other casts …
***
“ Berikan padaku Cheonsa.. “ teriak seorang anak laki laki berusia sembilan tahun pada gadis kecil di depannya. Gadis kecil yang usianya tidak terpaut jauh dari anak laki-laki tadi menoleh dan memamerkan tampang cemberutnya.
“ Hyaa.. Sudah ku bilang, jangan panggil aku seperti itu! Aku tidak suka!” gerutu sang gadis.
“ Waeyo? Aku suka.. Haha.. Ayo cepat, serahkan harmonika itu padaku! Aku juga ingin belajar memainkannya. “
“ Tidak mau!”
“ Ayo, berikan.. Kalau tidak…”
“ Kalau tidak apa?”
“ Kalau tidak, aku akan .. Menciummu… “
“ Terserahmu.. Tangkap aku kalau kau bisa.. “ gadis kecil itu kemudian berlari menjauhi teman laik-lakinya tadi. Sedetik kemudian terdengar teriakan dan tawa nyaring sang gadis yang berhasil tertangkap.
“ Jangan.. Jangan cium aku babo! Kau bau.. Kau belum mandi.. “ gadis itu tertawa cekikikan.
“ Hahaha.. Aku mendapatkanmu.. Ayo sini.. Berikan.. “
“ Tidaakk mau… !”
“Kalau begitu .. Aku akan menciummu..”
“Andwaeee…!”
***
Alunan nada demi nada merdu dari harmonika terdengar jelas dari dalam kamar bernuansa biru muda itu. Di sudut kamar itu, seorang gadis dengan rambut sebahu terurai terlihat asyik memainkan harmonika kesayangannya. Ia sangat serius. Sangat menghayati permainannya. Sampai-sampai ia tidak mengetahui bahwa seseorang sudah bersandar di pintu kamarnya sedari tadi. Suara tepukan tangan dari orang itu menutup permainan harmonika gadis tadi.
“ Kibum-a, sejak kapan ada disitu?” tanya gadis itu kaget melihat seorang pria berpenampilan sporty sedang bertepuk tangan dan tersenyum.
“ Sejak kau mulai mengalunkan nada pertama dari harmonikamu itu Yudi-ya.. “ jawab pria bernama Kibum itu.
“ Mianhe.. Aku terlalu berkonsentrasi. Sampai-sampai tidak tau kau datang. “
“ Gwaenchana.. Hari ini sibuk?”
“ Anniya. Waeyo?”
“ Kita jalan-jalan. Ya?”
“ Baiklah. Aku siap-siap dulu. Kau tunggu diluar..”
Kibum keluar dari kamar Yudi dengan senyum mengembang di wajahnya.
“ Yes!” sorak Kibum sambil mengepalkan tangannya.
***
“ Seon Yudi, menikahlah denganku.. “ Kibum berlutut di depan Yudi sambil memperlihatkan sebuah kotak berisi cincin pada Yudi. Yudi terkejut dengan lamaran Kibum padanya. Ia dan kibum sudah bersahabat sejak lama. Keluarganya dan keluarga Kibum pun saling mengenal. Selama ini, Kibum selalu baik padanya. Dan sejak awal ia pun tau kalau Kibum memendam rasa khusus untuk dirinya. Tapi bagi Yudi, Kibum hanyalah kakak sekaligus sahabat terbaiknya dan tak ada rasa cinta. Usia Yudi yang sudah memasuki 23 tahun memang pantas untuk menikah. Tapi mestikah dengan Kibum? Kibum sahabatnya yang kini sedang berlutut di hadapannya. Haruskah Yudi menolak pria sebaik Kibum? Haruskah Yudi melukai hati pria seperti Kibum… Atau Yudi harus menunggu pria lain yang ia cintai selama ini? Yudi hanya bisa diam.
“ Yudi-ya… Kau tidak mesti menjawabnya sekarang.. “
“ Kibum-a…. Aku.. Menerima lamaranmu..” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Yudi. Ia sendiri bingung atas apa yang ia katakan tadi.
“ Benarkah? Terima kasih Yudi-ya.. Saranghae.. “ Kibum langsung meraih Yudi ke dalam pelukannya.
“ Iya.. Kibum-a..” Jawab Yudi menahan tangis.
***
Seorang anak laki-laki mendekatinya, tersenyum padanya, terus mendekat, dan mendekat….
Yudi terbangun dari tidurnya dengan keringat bercucuran. Nafasnya tersengal-sengal seperti habis berlari. Mimpi itu lagi. Mimpi yang sama yang selalu datang di kala Yudi tengah galau. Siapa anak laki-laki itu? Kenapa laki-laki itu selalu menghantui benaknya? Apa dia teman kecil Yudi.. Banyak pertanyaan menari-nari di kepala Yudi. Yudi melirik seseorang yang tengah tertidur pulas di sisinya. Kim Kibum. Suaminya. Keadaan inilah yang membuatnya gelisah dan terjepit dalam kebingungan. Ia sudah menikah resmi dengan Kibum, tetapi rasa cinta untuk suaminya tidak pernah ada. Yang lebih mengherankan lagi, selalu saja ada rasa rindu yang aneh menyelinap di hatinya. Rasa rindunya untuk orang lain. Yudi benar-benar merindukannya. Merindukan seseorang yang bahkan ia tak tau siapa.
***
Yudi mengusap halus batu nisan bertuliskan nama Kim Kibum. Ia diam. Diam seribu bahasa. Makam di depannya masih baru. Tanahnya masih segar. Bunga-bunga diatasnya belum layu. Tak ada suara atau tangisan lagi yang terdengar. Tapi gurat wajah kesedihan dan mata yang sembab masih membekas jelas di paras ayu Seon Yudi. Ia tidak pernah menyangka akan begini. Rasanya baru kemarin ia mendengar ucapan selamat atas pesta pernikahannya yang mewah dengan Kibum. Rasanya baru tadi pagi ia dibangunkan dengan ciuman mesra Kibum. Andai waktu bisa diputar kembali, ia ingin sekali mengatakan betapa ia sangat menyayangi Kibum. Ia menyesal tidak pernah mengatakan itu pada Kibum selama dua bulan pernikahannya. Kini ia hanya bisa menangis menyesal. Bahkan tangisannya tanpa air mata. Air matanya serasa sudah habis dan kering.
“ Maafkan aku Kibum-a.. Maafkan aku.. Jeongmal mianhe… “
***
Seorang pria tampan tengah serius menyelesaikan lukisannya di tepi jalanan kota Seoul. Dari keseriusannya, semua orang pasti mengira ia sedang melukis sebuah lukisan yang akan bernilai tinggi. Tapi ternyata tidak. Pria itu hanya melukis sebuah harmonika usang bermotif sederhana yang ia letakkan di depannya. Bahkan ia membiarkan harmonika dalam lukisannya itu seperti aslinya. Usang. Dan sama sekali tidak menarik. Padahal ia bisa saja menambahkan warna-warna mencolok jika ia mau. Tapi sampai lukisannya jadi, ia tetap tidak melakukan hal apapun selain tersenyum memandang lukisannya.
“Hey.. Cho Kyuhyun! Sudah selesai ?“
Pria yang bernama Kyuhyun tadi menoleh. Ia tersenyum senyumnya manis sekali.
“ Sudah. Tinggal merapikannya. Kau kemari khusus menjemputku Sungmin?”
“ Ya! Begitulah. Aku lelah. Dan ingin minum kopi. Kau mau?” pria bernama Sungmin berbicara sambil mengambil dan membolak balik lukisan harmonika Kyuhyun dengan wajah aneh.
“ Oke. Hya..!!! Jangan sentuh lukisan itu!” Larang Kyuhyun dan langsung merampas kembali lukisannya.
“ Kyu, kenapa selalu harmonika jelek ini yang menjadi modelmu?”
“ Rahasia” jawab Kyu sekenanya. “ Kaja.. “ Kyu mengajak Sungmin pergi meninggalkan areal jalanan tempatnya melukis.
***
Yudi berlari-lari kecil mencari tempat berteduh dari hujan yang turun cukup deras. Langkah kakinya menimbulkan bunyi kecipak-kecipuk dan cipratan dari genangan air yang dilewatinya. Setengah tubuhnya basah kuyup. Dan suara gemeretak terdengar halus akibat dari bibirnya yang menggigil. Yudi akhirnya masuk ke sebuah coffee house untuk menghangatkan badannya.
***
“ Kyu, ada apa dengan harmonika itu?” tanya Sungmin setelah menyeruput cappuccinonya.
“ Sewaktu aku kecil dulu, waktu aku di London, aku pernah punya seorang teman yang pandai memainkan harmonika. Aku suka sekali mendengar ia memainkan harmonika itu karena aku sendiri tidak bisa memainkannya.” Kyu menggenggam erat sebuah harmonika tua dan memandanginya dengan tatapan rindu.
“ Hanya karena alasan itu? Lalu temanmu itu sekarang dimana? Dia seorang namja atau yeoja?” tanya Sungmin lagi.
“ Yeoja. Entahlah. Aku tidak tau dia dimana. Kata tetangga rumahnya dia pulang ke Seoul. Dan setelah itu aku tidak tau bagaimana keadaannya.”
“ Kau rindu padanya?” Sungmin bertanya semakin menyelidik.
“ Ya. Begitulah – “ Kyu menghentikan pembicaraannya saat ia melihat seorang gadis yang setengah basah masuk dan duduk tepat di seberangnya. Kyu merasa mengenal gadis itu. Ia memutar cepat otaknya dan memaksanya untuk berpikir. Ia terus memandang gadis itu dengan seksama. Sedetik kemudian ia tersenyum.
***
Yudi mengibas-ngibaskan bajunya yang basah. Kemudian menyeruput sedikit moccacinonya yang hangat. Yudi melihat ke seberang tempat duduknya. Ternyata benar. Ada seorang namja yang tengah memperhatikannya. Namja itu tersenyum padanya. Yudi yang merasa risih kemudian meminum sisa moccanya, membayar , dan kemudian keluar dari coffee house itu.
***
“ Siapa sih yang kau perhatikan?” tanya Sungmin yang otomatis menoleh ke arah belakangnya namun, tidak ada siapa-siapa.
“ Anniya. Sungmin-a. Aku keluar dulu. Terima kasih sudah mentraktirku hari ini.” Kyu bergegas pergi meninggalkan Sungmin yang di kepalanya masih dipenuhi berjuta-juta kebingungan.
“ Aneh sekali orang itu. Babo! “ Sungmin memandang punggung Kyu yang perlahan menghilang sambil meminum kembali cappucinonya, ketika berbalik ke posisinya semula, mata indah Sungmin menangkap sesuatu di depannya. Sebuah harmonika milik Kyu yang tertinggal. Sungmin memandang harmonika itu. Merasa kasihan pada Kyu. Tiba-tiba Sungmin teringat akan seseorang, seseorang yang mungkin bisa membuat Kyu sedikit berhenti terobsesi pada sebuah harmonika. Senyum manis terukir indah di wajah Sungmin.
***
“ Wanita cantik tidak boleh kehujanan. “ seseorang datang tiba-tiba dan memayunginya, membuat Yudi benar-benar terkejut. Orang ini, adalah orang yang memperhatikannya di coffee shop tadi. Yudi merasa aneh dengan orang ini.
“ Siapa kau?” Yudi langsung menghentikan langkahnya.
Kyu merasa heran, mungkinkah gadi ini sudah melupakannya. Kalau iya, itu wajar. Karena sudah belasan tahun mereka tidak pernah bertatap muka.
“ Aku. Cho Kyuhyun. Kau?”
“ Aku Seon Yudi. Apa kita pernah saling mengenal?”
Deggg- Ternyata dugaan Kyu benar. Yudi tidak mengenalinya bahkan ketika ia sudah menyebutkan namanya. Apakah ingatan Yudi benar-benar buruk? Entahlah.
“ Aku rasa tidak. Senang bertemu denganmu Yudi-ya.” Jawab Kyu getir
“ Kamsahamnida atas tumpangan payungnya.” Yudi membungkukkan badannya dan bergegas berlari meninggalkan Kyu yang benar-benar bingung.
***
“ Kau menculikku dari tempat kerja. Kau harus membayarnya nanti Lee Sungmin!” protes Seon Yudi yang kini sudah terduduk manis di dalam mobil Sungmin dengan seat bealt yang sudah terpasang aman sampai mengeluarkan bunyi –Ckliiick- !! Lee Sungmin yang sibuk menyetir pura-pura tidak mendengarkan ocehan panjang dari Yudi. Sepanjang jalan ia hanya bersiul dan berkonsentrasi menyetir. Dan sesekali melirik Yudi yang juga tengah asyik memanyunkan bibirnya.
“ Hyaa. Babo! Kau akan membawaku kemana?” tanya Yudi sekali lagi.
“ Aku akan membawamu ke suatu tempat, bertemu seseorang yang memiliki kesamaan denganmu.”
“ Mwo? Siapa?”
“ Tunggu sebentar lagi nona manis. Kita hampir sampai.”
***
Kyuhyun membolak-balik ponselnya ke kanan, ke kiri , memutar-mutarnya tanpa melakukan hal apapun yang lebih berguna. Kyu melihat lagi jam tangannya. Sudah pukul tiga, namun sahabatnya, Sungmin, tidak juga datang. Sungmin berjanji akan membawa temannya yang pintar bermain harmonika untuk mengobati rasa rindu Kyuhyun pada harmonika. Dan Kyuhyun sangat menantikan momen-momen seperti ini, karena ia amat merindukan alunan nada yang tercipta dari sebuah harmonika. Tidak peduli siapa yang akan dibawa Sungmin ke rumahnya nanti, yang jelas ia ingin mendengarkan orang itu memainkan harmonika. Kyu melihat sekilas pada lukisan harmonika usang yang terpajang bebas tanpa syarat di depan matanya --- Ting Tong ! Bel rumahnya yang berbunyi nyaring membuyarkan lamunannya.
***
Mobil Hyundai putih mengkilap berhenti tepat di depan sebuah rumah bernuansa minimalis gaya Eropa. Sungmin membukakan pintu dan langsung menarik keluar Yudi yang masih terlihat manyun namun tidak mengeluarkan protes apapun. Tanpa banyak basa-basi Sungmin menekan bel rumah itu sebelum Yudi berubah pikiran dan haluan. – Ting Tong !
***
“KAU! Bukannya kau yang ada di coffee shop itu ?” tanya Yudi kaget melihat sosok namja di depannya yang membukakan pintu untuknya dan Sungmin.
Kyuhyun juga sama kagetnya. Tidak menyangka ia akan bertemu dengan gadis ini lagi. Dan tambah tidak menyangka lagi bahwa gadis ini teman Sungmin yang pandai memainkan harmonika. PASS! Berarti ia tidak salah orang. Namun masih seperti hari pertama mereka bertemu, gadis itu tidak mengenali Kyuhyun.
“ Annyeong. Silakan masuk. “ jawab Kyu ambigu. Yudi terpaksa mengikuti pria itu masuk setelah Sungmin menyikutnya lumayan keras.
“ Jadi kalian sudah saling mengenal?” tanya Sungmin penasaran setelah mereka bertiga tiba di ruang tamu Kyu.
“ Hanya kebetulan. Benar begitu nona Yudi?” senyum Kyu yang amat teramat manis untuk saat itu ke arahnya membuat Yudi menganggukkan kepalanya.
“ Ohh. Bagus kalau begitu. Yudi-ya, ini temanku, Kyuhyun. Aku mengajakmu kesini karena aku ingin membantunya--”
“ Membantunya?” potong Yudi.
“ Ya. Dia sangat rindu akan permainan harmonika seseorang. Dan, aku rasa kau orang yang tepat.”
“ Kenapa aku?” protes Yudi.
“ Karena kau seorang pemain harmonika yang handal babo!”
“ Aku tidak mau. Aku sudah lupa cara memainkan harmonika!” Yudi bangun dari tempat duduknya. Tepat di saat itu Kyu juga melakukan hal yang sama. Ia menatap Yudi dengan pandangan memohon.
“ Seon Yudi, aku hanya ingin mendengar sekali saja permainan mu. Sesudah itu, kau boleh pergi dari sini dan menganggap kita tidak pernah saling mengenal. “ pinta Kyu pada Yudi.
Yudi berpikir sejenak. Berpikir bahwa ia juga sudah lama merindukan saat-saat ia memainkan harmonikanya dan.. Apa salahnya membantu orang.
“ Kau, punya harmonika?” ujar Yudi kemudian.
“ Tentu saja. “ Kyu tersenyum senang. Sangat senang. Tidak pernah ia sesenang itu sebelumnya.
“ Tapi sebelumnya, aku mau ke toilet. Dimana? “
“ Hya.. Seon Yudi, kau degdegan?” ledek Sungmin sambil tertawa terkekeh.
“ Diam kau!” delik Yudi pada Sungmin.
“ Toilet ada di dekat dapur. Dari sini kau lurus, kemudian belok kanan. Perlu ku antar? “
“ Tidak. Terima kasih.” Ucap Yudi singkat dan bergegas.
***
“ Jangan terlalu dipikirkan Kyu. Yudi memang begitu. Apalagi sejak kematian suaminya. Dia semakin sensitif. “ terang Sungmin pada Kyu ketika ia menangkap aura kecemasan pada wajah Kyu.
Deggg!! Kecemasan pada wajah Kyu seketika berubah menjadi kekagetan dan kekecewaan yang mendalam. “ Suami.. Yudi? Dia sudah menikah?” tanyanya pada Sungmin.
“ Ya. Tapi baru dua bulan menikah suaminya meninggal. Akibat kecelakaan mobil setahun yang lalu. Sejak itu Yudi berhenti memainkan harmonika. Lebih suka menyendiri. Menutup semua hingar bingar kehidupannya. “
“ Oh.. Begitu.. “ Kyu mencelos mendengar apa yang dikatakan Sungmin barusan. Ia mencoba mencerna semua perkataan Sungmin yang singgah di telinganya. Kecewa. Sangat kecewa.
***
Yudi mematut dirinya dicermin dan menghela nafas panjang. Terus terang ia sedikit gugup untuk memainkan kembali harmonikanya. Yudi keluar dari toilet dan kembali mengambil nafas.
Yudi melewati sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Karena penasaran, Yudi melongokkan sedikit kepalanya. Ruangan itu, sepertinya tempat memajang lukisan. Karena banyak sekali lukisan-lukisan tergantung atau masih bersandar di ruangan itu. Yudi melangkah lebih jauh masuk ke dalam ruangan itu. Matanya tercengang ketika melihat sebuah lukisan harmonika tua di depannya. Lukisan itu memaksanya berpikir. Kepingan-kepingan memorinya sedikit demi sedikit menyatu. Membawa ingatannya akan masa lalu yang perlahan menguak.
***
-flashback-
London, 15 tahun silam
“ Berikan padaku Cheonsa.. “ teriak seorang anak laki laki berusia sembilan tahun pada gadis kecil di depannya. Gadis kecil yang usianya tidak terpaut jauh dari anak laki-laki tadi menoleh dan memamerkan tampang cemberutnya.
“ Hyaa.. Sudah ku bilang, jangan panggil aku seperti itu! Aku tidak suka!” gerutu sang gadis.
“ Waeyo? Aku suka.. Haha.. Ayo cepat, serahkan harmonika itu padaku! Aku juga ingin belajar memainkannya. “
“ Tidak mau!”
“ Ayo, berikan.. Kalau tidak…”
“ Kalau tidak apa?”
“ Kalau tidak, aku akan .. Menciummu… “
“ Terserahmu.. Tangkap aku kalau kau bisa.. “ gadis kecil itu kemudian berlari menjauhi teman laik-lakinya tadi. Sedetik kemudian terdengar teriakan dan tawa nyaring sang gadis yang berhasil tertangkap.
“ Jangan.. Jangan cium aku babo! Kau bau.. Kau belum mandi.. “ gadis itu tertawa cekikikan.
“ Hahaha.. Aku mendapatkanmu.. Ayo sini.. Berikan.. “
“ Tidaakk mau… !”
“Kalau begitu .. Aku akan menciummu..”
“Andwaeee… Kibum.. !”
***
Kim Kibum dan Seon Yudi, dua anak kecil yang periang, selalu menghabiskan waktunya bermain di taman dekat rumah mereka. Mereka sama-sama orang Korea yang bermukim di Inggris. Usia yang tidak terpaut jauh membuat mereka cepat akrab. Yudi, sang gadis cilik yang cantik sangat mahir memainkan alat tiup harmonika. Kibum selalu ingin belajar, namun Yudi tidak pernah mau meminjamkan harmonikanya pada Kibum. Mereka selalu berakhir seperti itu. Bermain, dan kejar-kejaran.
“ Berikan padaku! “ desak Kibum kecil.
“ Ishh.. Tidak mau.”
“ Ya sudah. Aku mau pulang. Pulang ke Korea dan akan menjadi pemain harmonika yang sukses sepertimu Seon Yudi. Weeekkkk… “ ledek Kibum sebelum ia berlari meninggalkan Yudi seorang diri.
“ Sanaa pergi.. “ ujar Yudi cemberut. Ia membiarkan Kibum pergi karena ia yakin Kibum tidak akan mungkin meninggalkannya seorang diri. Tapi Yudi salah, Kibum tidak kembali. Dan kini hari sudah mulai gelap. Meski dekat dengan rumahnya, tetap saja Yudi tidak berani pulang sendirian. Yudi menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya dan menangis tanpa suara.
Seorang anak kecil laki laki mendekat. Menepuk pelan pundak Yudi. Perlahan Yudi mengangkat wajahnya, anak kecil itu sangat dekat dengannya dan tersenyum ke arahnya. Senyum yang meneduhkan.
“ What are you doing here?” tanya anak laki-laki itu dalam bahasa Inggris. Bukannya menjawab, air mata Yudi malah semakin deras. Ia hanya menggeleng dan membisikkan kata ‘ Eomma’..
Anak laki-laki itu mendengar suara Yudi yang berbisik dan tersenyum.
“ Hanguk saramiyeyo?” tanya anak laki-laki itu dalam bahasa Korea.
“ Ne.. “ jawab Yudi akhirnya.
“ Siapa namamu? Dimana rumahmu?” tanya anak laki-laki itu lagi.
“ Aku. Seon Yudi-imnida. Kau orang Korea?” selidik Yudi yang kini tangisnya sudah agak mereda.
“ Iya. Cho Kyuhyun-imnida. Ayo, aku antar pulang. Sebentar lagi sepertinya akan turun hujan, gadis cantik sepertimu tidak boleh kehujanan.”
Yudi menyanggupi ajakan Kyuhyun. Mereka berjalan beriringan. Sepanjang perjalanan, Yudi dengan bangga memamerkan keahliannya bermain harmonika pada Kyu. Dan Kyu terus memujinya.
***
“ Kyunnie oppa.. “
“Ne..”
“ Ambil ini.. Anggap saja sebagai hadiah.” Yudi menyerahkan harmonikanya pada Kyu.
“ Tapi, aku tidak bisa memainkannya. “
“ Simpan saja, suatu saat nanti, aku yang akan memainkannya untukmu. Aku janji.” Yudi membentuk jarinya menjadi bentuk V dan tersenyum.
“ Baiklah.” Kyu tersenyum lagi pada Yudi.
-end of flashback-
***
Yudi memegang kepalanya yang sakit. Ia baru ingat semuanya sekarang. Yudi juga baru ingat, ia pernah mendapat kecelakaan sewaktu berada di London. Kecelakaan itu membuat ia melupakan setengah memorinya. Karena itulah, orang tuanya membawanya pulang kembali ke Korea. Yudi memandang lukisan itu. Anak laki-laki dalam mimpinya, tidak lain adalah Kyuhyun. Kyuhyun yang menjaganya sewaktu Kibum kecil meninggalkannya. Dan Kyuhyun yang juga datang ketika Kibum benar-benar meninggalkannya untuk selamanya. Yudi menyeka air matanya dan mengusap halus kanvas lukisan di depannya.
“ Yudi-ya, apa yang kau lakukan disini?”
Pertanyaan yang sama, yang diterimanya lima belas tahun yang lalu dalam versi berbeda mengejutkan Yudi. Ia berbalik dan memandang Kyuhyun yang sudah berdiri di hadapannya. Dengan bercucuran air mata Yudi berjalan perlahan mendekati Kyu.
“ Kyunnie.. Oppa… “ bisik Yudi sesenggukan.
“ Yudi-ya. Kau mengenaliku?” tanya Kyu yang benar-benar tidak menyangka akan perubahan drastis yang ditujukkan Yudi padanya.
“ Mianhe.. Mianhe… “ isak Yudi
“Uljima.. Uljima.. Yudi-ya.. “ Kyu meraih Yudi dalam pelukannya dan menenangkannya. Sangat bahagia rasanya. Ia kembali menemukan gadis kecilnya dulu dalam keadaan yang sama. Tengah menangis. Kyuhyun benar-benar merindukan Yudi. Lebih dari apapun. Benar-benar merindukan Seon Yudi.
***
Senja yang indah. Seorang gadis memainkan harmonikanya dengan sangat mahir. Nada-nada indah mengalun dari permainannya. Menambah indah suasana tepi Sungai Han. Suara riuh tepuk tangan mengakhiri permainan harmonika Yudi. Yudi menyunggingkan senyum manisnya untuk seseorang yang tengah bertepuk tangan untuknya. Kyuhyun, orang yang sangat ia rindukan selama ini. Orang yang sempat terlupakan olehnya, kini ada di dekatnya. Kyuhyun hari itu sangat tampan, dengan jas hitam dan celana jeans warna sama, Kyuhyun tampak sangat elegan. Kyuhyun perlahan berjalan mendekati Yudi yang masih tersenyum manis.
“ Permainanmu tetap sama seperti dulu. Sangat enak di dengar.” Puji Kyu pada Yudi
“ Gomawo.. “
“ Yudi-ya, saranghae..” ujar Kyu pelan, menatap serius kedua mata Yudi.
“ Kyu… Kau.. Kau pasti tau keadaanku Kyu. Aku sudah pernah menikah. Dan aku akan tetap menjadi bagian dari keluarga Kibum. Aku… “
“ Aku tau. Tuhan mengirimku untuk menjagamu Yudi. Maka tetaplah seperti ini, ada di dekatku dan biarkan aku tetap menjagamu. Itu saja sudah cukup. “ Kyu menggenggam erat tangan Yudi.
Yudi mengangguk perlahan kemudian tersenyum.
***
-the end-
Yudiii.. maaf kalo ceritanya jelek. Mohon di koreksi, author Yudi.. hehe.. :D
Maaf saya gak tau style pakaian Kyuhyun. Jadi malah pake stylenya Lee Taemin dhe.. wkwkwkwk..
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
KAMUS :
-Hanguk saramiyeyo ? : Orang Korea?
-Cheonsa : malaikat.
-Eomma : ibu
-gwaenchana : it’s okay
-anniya : tidak.
-waeyo : kenapa?
-Mianhe : maaf.
-kaja : ayo pergi!
INFO:
Aku pernah baca salah satu info yang bilang kalau janda di Korea itu ( ditinggal mati sama suaminya) akan tetap mengabdikan dirinya sama keluarga suaminya. Gitu,.. aku gak terlalu ngerti maksudnya. Mungkin gak bisa nikah lagi kali ya. Hehe… mohon maaf dhe kalo salah.. :P
*Bungkuk badan*
Sampai jumpa di FF selanjutnya. Semoga ada peningkatan dalam hasil karya saya selanjutnya. Karena itu, kritik saran pembaca amat dibutuhkan. Awas ya, kalo cuma baca aja tanpa komen, siap-siap diserang sama ayamnya Onew (?) hahaha… Annyeong…… ^.^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar